Perputaran Uang Saat Lebaran Diprediksi Turun Rp 3,09 T Jika Ada Pelarangan Mudik

Larangan Mudik berpotensi perputaran uang turun 3 Trilliun
Pemerintah berencana melakukan pelarangan mudik Lebaran 2020. Rencana ini dilakukan sebagai antisipasi meluasnya penyebaran virus corona. Sebab, tidak sedikit pemudik berasal dari daerah zona merah wabah Covid-19.
Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, memprediksi masa mudik Lebaran kali ini terjadi penurunan perputaran uang hingga Rp 3,09 triliun. Selain akibat pelarangan mudik jika diberlakukan, penurunan terjadi karena adanya virus corona dan efisiensi dunia usaha.
Perputaran uang diramal akan merosot hingga 30 persen atau sekitar Rp 3,09 triliun di musim mudik tahun ini. Perputaran uang tahun lalu di masa mudik mencapai Rp 10,3 triliun.
"30 persen baru perkiraan awal," kata Bhima kepada merdeka.com, Jakarta, Selasa (31/3).
Sebelum adanya larangan tersebut, jumlah pemudik tahun ini sudah akan menurun tajam. Alasannya, virus corona membuat orang menghindari keramaian. "Selain itu ada kekhawatiran gejolak ekonomi menekan daya beli," kata Bhima.
Bhima menjelaskan saat ini cashflow beberapa perusahaan tertekan imbas corona. Dikhawatirkan hal ini dapat mengurangi jatah tunjangan hari raya (THR) sebagai konsekuensi dari efisiensi.

Rp 200 T Uang Akan Beredar, Mudik Lebaran Diyakini Genjot Ekonomi RI

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Bambang Soesatyo, menyatakan mudik bukan sekadar kegiatan tahunan untuk merayakan Lebaran di kampung halaman. Pada momen ini, ada kegiatan ekonomi luar biasa di mana akan ada sekitar Rp 200 triliun uang beredar.
"Bank Indonesia memperkirakan uang yang beredar pada mudik Lebaran tahun 2018 sebanyak Rp 200 triliun. Uang tersebut akan mengalir ke daerah-daerah dan desa-desa sehingga akan menggairahkan ekonomi daerah dan pedesaan," ujar dia, Rabu (30/5).
Sebab itu, menurut Politikus berlatar belakang wartawan itu menambahkan, Ramadan bukan hanya momen untuk meningkatkan ketakwaan, tapi juga kaya akan dimensi sosial dan ekonomi. Misalnya, jelang pengujung Ramadan nanti umat Islam diwajibkan membayar zakat fitrah.
"Dengan zakat, khususnya zakat harta ditambah infak dan sedekah akan memperkuat dimensi sosial untuk membantu saudara-saudara kita yang tidak mampu, yaitu mereka yang fakir dan miskin. Zakat, infaq dan sedekah juga mengandung potensi ekonomi yang besar jika dapat dikelola dengan profesional," ujarnya.
Dia pun menyampaikan harapan khusus kepada para koleganya di kalangan pengusaha. "Para pengusaha yang ada di Kadin, Ardin, Hipmi dan organisasi profesi lainnya dapat menjadi pelopor dalam pengembangan ekonomi di bidang zakat, infak dan sedekah," tutur dia.
Selain itu, dia mengingatkan jika hal penting dalam Ramadan adalah spirit berbagi. Dia mengharapkan partai politik ataupun koleganya sesama politikus untuk mengedepankan spirit berbagi terhadap sesama.
"Dan jangan lupa momentum Lebaran adalah waktu yang tepat bagi partai-partai politik, khusunya bagi para caleg untuk mengetuk simpati masyarakat, serta meningkatkan kepedulian kepada rakyat," tutupnya.

Post a comment

0 Comments